oleh

Melihat dekor unik dan ramah difabel stasiun MRT yang beroperasi Maret 2019

METROUPDATE.CO.ID-JAKARTA – Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta direncanakan beroperasi pada Maret 2019. Pengerjaan fase 1 dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI dengan panjang 16 kilometer secara keseluruhan telah mencapai 96,54 persen.

Fase 1 ini nantinya terdapat 13 stasiun yang beroperasi, terdiri dari tujuh stasiun layang yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Enam stasiun bawah tanah lainnya yakni Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas serta Bundaran Hotel Indonesia.

Liputan6.com berkesempatan untuk meninjau secara langsung perkembangan pembangunan Stasiun Senayan, Jakarta Pusat yang terletak sekitar 150 meter dari Halte Transjakarta Bundaran Senayan. Sehingga, penumpang tinggal berjalan kaki menuju stasiun MRT.

Akses ke stasiun ini pun saat ini masih melalui pintu masuk yang berlokasi di seberang Ratu Plaza atau pintu masuk sisi timur. Sebab, akses masuk di depan Ratu Plaza dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atau sisi barat masih dalam tahap pembangunan pembuatan tangga dan pemasangan eskalator.

PT MRT Jakarta berencana mendekorasi dengan tema khusus di setiap stasiun. Untuk Stasiun Senayan, nantinya akan memiliki warna yang didominasi cokelat, abu-abu, serta desain stasiun yang ramah dan menyatu dengan area di sekitarnya. Pintu masuk stasiun terletak di area pedestrian yang tingginya di desain mencapai 150 centimeter di atas permukaan jalan.

Sementara di dalam stasiun ini nantinya akan terbagi menjadi dua level. Level pertama atau concourse merupakan tempat untuk kegiatan pembelian dan penjualan tiket serta passenger gate. Di lantai ini, para penumpang MRT melakukan tapping in dan tapping out.

Tak hanya itu, area dengan panjang 200 meter dan lebar 19 meter nantinya juga menyediakan berbagai macam gerai komersil, meliputi makanan, minuman, hingga fesyen. Penumpang akan dikenakan biaya setelah melewati passanger gate. Sehingga, apabila tidak menggunakan MRT, masyarakat masih dapat memanfaatkannya untuk berkumpul di area komersil.

Selanjutnya menuju area level dua atau area peron penumpang. Platform screen door (PSD) atau pembatas antara peron penumpang telah dipasang secara keseluruhan. Passenger information display atau penampang informasi bagi para penumpang yang berisi informasi status kedatangan dan keberangkatan kereta juga sudah terpasang.

Tema-tema Unik di Stasiun MRT

Berbeda dengan Stasiun Senayan yang berdasar pada konsep warna, Stasiun Bundaran HI, Blok M, Haji Nawi, Dukuh Atas, Istora, hingga Sisingamangaraja memiliki tema khusus yang disesuaikan dengan keadaan sekitar.

Contohnya adalah Stasiun Bundaran HI memiliki konsep internasional. Hal ini didasarkan lokasinya yang berada di area hotel internasional, pusat perbelanjaan, kantor kedutaan, dan salah satu ikon Jakarta. Warna-warna putih, perak, dan abu-abu akan mendominasi stasiun menggunakan konsep gaya hidup perkotaan, modern, internasional, dan perdamaian dunia.

“Kalau di Bundaran HI itu temanya internasional, karena kawasannya banyak gedung-gedung tinggi,” kata Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta, Agung Wicaksono beberapa waktu lalu di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat.

Pembangunan kontruksi MRT Liputan6.com/Angga YuniarKemudian Stasiun Istora yang terletak di depan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) akan memberikan konsep dasar menyiratkan unsur olahraga. Warna kuning tua, putih, dan abu-abu lebih mendominasi.

Selanjutnya, Stasiun Sisingamangaraja, selain berintegrasi dengan Halte Transjakarta CSW dan Gedung Sekretariat ASEAN, nantinya akan mengangkat tema ASEAN, multikultural, dan persatuan dalam keberagaman. Warna yang dimunculkan adalah cokelat alam dan gradasi abu-abu.

Sedangkan untuk Stasiun Blok M akan berkonsep unsur-unsur taman kota dengan warna yang mendominasi yaitu gradasi hijau, abu-abu dan putih. Alasannya karena stasiun ini terletak di antara Taman Ayodya dan Martha Tiyahahu.

Kalau untuk Blok A akan berkonsep pada salah satu unsur perdagangan tradisonal, yaitu pikulan kayu dan keranjang bambu. Sehingga warna yang dimunculkan di stasiun yaitu abu-abu muda, kuning terang dan krem. Mengingat sebelumnya kawasan Blok A merupakan pusat komersil dan bisnis.

Tak hanya itu, budaya khas Betawi juga akan disajikan di Stasiun Haji Nawi. Hal tersebut guna mengenang saudagar Haji Nawi yang berdarah Betawi.

Stasiun Ramah Difabel dan Anak

Beberapa stasiun lainnya juga tetap memiliki dekorasi yang berbeda, seperti Stasiun Cipete Raya akan didominasi warna tanah atau cokelat untuk memunculkan kesan menenangkan dan membumi. Lalu, Stasiun Setiabudi akan mengangkat tema elegan dan bernuansa ketenangan. Warna putih, keemasan, dan cokelat akan mendominasi stasiun ini.

Selanjutnya, Stasiun Bendungan Hilir akan berkonsep sungai dan aliran air, bernuansa alam dengan dominasi warna cokelat dan gradasinya. Sedangkan Stasiun Fatmawati akan bernuansa menyejukkan dan didominasi warna biru. Dan terakhir, sebagai depo kereta, Stasiun Lebak Bulus akan berkonsep yang dekat dengan elemen alam dengan nuansa warna didominasi hijau dan gradasinya.

Bahkan, tujuh stasiun layang dan enam di bawah tanah buatan PT MRT Jakarta ini sudah disiapkan agar ramah bagi difabel dan anak. Setiap stasiun juga aman dengan disertai fasilitas lift dan eskalator. Fasilitas lift ini akan memudahkan difabel menuju lantai concourse dan peron tempat menunggu kereta.

FASE 1 MRT MENCAPAI 96 PERSEN Liputan6.com/Herman ZakhariaDi Stasiun Senayan, lift khusus menuju concourse terletak di pintu masuk sisi timur dan barat. Sedangkan untuk menuju peron, disediakan satu lift yang terletak di dekat passanger gate sisi utara.

Di area peron penumpang, sinyal telekomunikasi belum tersedia. Meski begitu, nanti ketika mulai beroperasi jaringan telekomunikasi dapat diakses penumpang hingga kedalaman terowongan mencapai 20 meter. Untuk stasiun bawah tanah akan dilengkapi dengan pendingin ruangan dan area duduk akan tersedia untuk penumpang.

Pembatas antar peron yang dilapisi kaca yang memisahkan jalur kereta dengan titik berdiri penumpang akan terbuka dan tertutup ketika kereta berhenti. Dengan begitu dapat menghindari terjatuhnya anak-anak di peron kereta.

Fasilitas umum lainnya seperti toilet perempuan, laki-laki, dan difabel hingga tempat menyusui juga akan tersedia. Tak hanya itu, MRT Jakarta juga telah memperhitungkan perlindungan terhadap banjir dan gempa hingga magnitudo 8.

Proses konstruksi bawah tanah menerapkan pelapisan sealer untuk mencegah potensi air masuk celah antarpanel dinding. Lantai dan dinding stasiun dilengkapi water proofing membrane untuk mencegah air masuk ke dalam stasiun, begitu juga dengan sambungan antarsegmen terowongan.

Reporter: Ika Defianti

Sumber: Liputan6.com [bal]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed